<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Anak-anak yang Terkena Dampak AIDS</title>
	<atom:link href="http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html</link>
	<description>Indonesia Millenium Development Goals Blog - Diskusi, Forum, Obrolan</description>
	<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 04:27:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Nurdiyansah</title>
		<link>http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html/comment-page-1#comment-68</link>
		<dc:creator>Nurdiyansah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:46:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html#comment-68</guid>
		<description>saat ini pemerintah melalui KPAN telah membuat Strategi Nasional untuk Perempuan dan Anak dan Remaja (jadi dua Stranas), yg akan berakhir hingga tahun 2010. Lalu, pengalaman saya menghadiri ICAAP IX, pihak Indonesia telah memunculkan beragam strategi yg mutakhir yang mengintegrasikan isu AIDS ke seluruh departemen dan kementerian yang ada di Indonesia, dana-dana juga turun ke sana untuk project2 masing2, apalagi isu AIDS juga masuk ke dalam gender mainstreaming, bagi permasalahan yg khusus di hadapi perempuan, namun implementasi masih dipertanyakan.

maslahanya Indonesia selalu mengedepankan program/proyek pencegahan, hampir semua dana turun ke sana, tapi masalah pengobatan dan perawatan kurang dapat perhatian. alasannya program pencegahan lebih cost effective, padahal ?????

makanya program tuk perempuan (karena jumlahnya menurut beberapa pihak belum signifikan dan belum terkonsentrasi epidemi) jadi dikesampingkan, lebih difokuskan pada IDU dan pekerja seks terus.

Haduh kayaknya tuk KPAN itu harus lebih berdaya secara ideologi/teori gender perihal penanganan AIDS ini. dan tentu kerja sama yg pasti terkait akses</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saat ini pemerintah melalui KPAN telah membuat Strategi Nasional untuk Perempuan dan Anak dan Remaja (jadi dua Stranas), yg akan berakhir hingga tahun 2010. Lalu, pengalaman saya menghadiri ICAAP IX, pihak Indonesia telah memunculkan beragam strategi yg mutakhir yang mengintegrasikan isu AIDS ke seluruh departemen dan kementerian yang ada di Indonesia, dana-dana juga turun ke sana untuk project2 masing2, apalagi isu AIDS juga masuk ke dalam gender mainstreaming, bagi permasalahan yg khusus di hadapi perempuan, namun implementasi masih dipertanyakan.</p>
<p>maslahanya Indonesia selalu mengedepankan program/proyek pencegahan, hampir semua dana turun ke sana, tapi masalah pengobatan dan perawatan kurang dapat perhatian. alasannya program pencegahan lebih cost effective, padahal ?????</p>
<p>makanya program tuk perempuan (karena jumlahnya menurut beberapa pihak belum signifikan dan belum terkonsentrasi epidemi) jadi dikesampingkan, lebih difokuskan pada IDU dan pekerja seks terus.</p>
<p>Haduh kayaknya tuk KPAN itu harus lebih berdaya secara ideologi/teori gender perihal penanganan AIDS ini. dan tentu kerja sama yg pasti terkait akses</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ari Jusuf</title>
		<link>http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html/comment-page-1#comment-63</link>
		<dc:creator>Ari Jusuf</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 03:02:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html#comment-63</guid>
		<description>Nah itu dia... mngkin sebenarnya jawabannya adalah di pembenahan sistem layanan kesehatan. SOalnya kalau sistem kesehatan sudah baik, ya HIV AIDS tidak perlu diperlakukan sebagai kasus khusus lagi. Semua layanan dan perawatan dapat dirasakan secara optmum oleh pasien. Masalahnya, jangankan pasien AIDS (yang seakan2 di kepalanya ada sticker "orang berdosa"), pasien umum saja masih banyak yang mendapatkan layanan yang kurang layak dan kurang manusiawi..

Terkait masalah ketersediaan ARV, dengar-dengar Depkes sedang berusaha men-develop sistem logistik/distribusi ARV  untuk memudahkan proses permintaan dan pengiriman ARV.

Tapi sebenarnya, ada cara lain yaitu masing-masing propinsi mengatur sendiri pengadaan dan pendistribusian ARV, jadi tidak bergantuhg pada Depkes di Jakarta. Sumber dana bisa berasal dari APBD ataupun dari APBN. Sayangnya model ini masih akan bergantung pada komitmen pemegang kepentingan di daerah.

Salam
Ari</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nah itu dia&#8230; mngkin sebenarnya jawabannya adalah di pembenahan sistem layanan kesehatan. SOalnya kalau sistem kesehatan sudah baik, ya HIV AIDS tidak perlu diperlakukan sebagai kasus khusus lagi. Semua layanan dan perawatan dapat dirasakan secara optmum oleh pasien. Masalahnya, jangankan pasien AIDS (yang seakan2 di kepalanya ada sticker &#8220;orang berdosa&#8221;), pasien umum saja masih banyak yang mendapatkan layanan yang kurang layak dan kurang manusiawi..</p>
<p>Terkait masalah ketersediaan ARV, dengar-dengar Depkes sedang berusaha men-develop sistem logistik/distribusi ARV  untuk memudahkan proses permintaan dan pengiriman ARV.</p>
<p>Tapi sebenarnya, ada cara lain yaitu masing-masing propinsi mengatur sendiri pengadaan dan pendistribusian ARV, jadi tidak bergantuhg pada Depkes di Jakarta. Sumber dana bisa berasal dari APBD ataupun dari APBN. Sayangnya model ini masih akan bergantung pada komitmen pemegang kepentingan di daerah.</p>
<p>Salam<br />
Ari</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bangtaru</title>
		<link>http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html/comment-page-1#comment-58</link>
		<dc:creator>Bangtaru</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 10:34:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html#comment-58</guid>
		<description>Menarik...
Mohon info lanjutan apa kira2 yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi situasi tersebut. Atau hal apa yang sebaiknya dilakukan?

Thanks and salam,
Taru</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik&#8230;<br />
Mohon info lanjutan apa kira2 yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi situasi tersebut. Atau hal apa yang sebaiknya dilakukan?</p>
<p>Thanks and salam,<br />
Taru</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nurdiyansah</title>
		<link>http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html/comment-page-1#comment-57</link>
		<dc:creator>Nurdiyansah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 09:18:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html#comment-57</guid>
		<description>halo, salam kenal!

Tuk kasus Fiji Island dan Thailand, mereka memang pemerintahnya sangat responsif (dana dan kerja2). sistem kesehatan mereka baik, ditunjang dengan berbagai faktor sehingga akses (tuk perawatan dan pelayanan) mudah dilakukan. Tuk kasus di Indonesia, kita memiliki sistem kesehatan yang buruk, dan lagi program dan kerja untuk AIDS selalu saja tentang "pencegahan", bukan ke soal akses (ARV)("perawatan" dan "pengobatan"), sehingga Thai adalah negara tersukses di Asia (juga ASEAN). untuk hal ini, tentu ukurannya adalah ODHA yang mendapatkan pelayanan, perawatan, dan pengobatan. Selain menghadapi kendala dalam sistem kesehatan yang buruk, negeri kita juga mengalami hambatan soal ketidakmampuannya menangani KPA-KPA dan pemerintah di daerah (TK. Kabupaten/Kota), sehingga akses bagi ODHA tidak merata di daerah2. Pemerintah daerah juga kurang responsif, selain keterbatasan pengetahuan dan kesadaran, juga koruptif, lho. Padahal, hingga tahun 2009, dana dalam negeri (APBN dan APBD) jumlahnya lebih besar dibanding dana donor luar.ironinya lagi, ARV diproduksi di Indonesia, tapi mengapa banyak ODHA di berbagai pelosok, bahkan area tertentu di kota besar, sulit mendapatkannya secara gratis.

Data itu kuambil dari salah seorang pembicara (bukan orang Indonesia tentunya), yang memaparkan data bahwa di Indonesia program untuk ibu hamil mendapatkan tes HIV dan AIDS, sebanyak 4 % saja (di seluruh Indonesia ya), dan program untuk setelah ibu hamil melakukan tes, itu belum ada programnya. jadi bisa dikatakan Indonesia masih 0%</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>halo, salam kenal!</p>
<p>Tuk kasus Fiji Island dan Thailand, mereka memang pemerintahnya sangat responsif (dana dan kerja2). sistem kesehatan mereka baik, ditunjang dengan berbagai faktor sehingga akses (tuk perawatan dan pelayanan) mudah dilakukan. Tuk kasus di Indonesia, kita memiliki sistem kesehatan yang buruk, dan lagi program dan kerja untuk AIDS selalu saja tentang &#8220;pencegahan&#8221;, bukan ke soal akses (ARV)(&#8221;perawatan&#8221; dan &#8220;pengobatan&#8221;), sehingga Thai adalah negara tersukses di Asia (juga ASEAN). untuk hal ini, tentu ukurannya adalah ODHA yang mendapatkan pelayanan, perawatan, dan pengobatan. Selain menghadapi kendala dalam sistem kesehatan yang buruk, negeri kita juga mengalami hambatan soal ketidakmampuannya menangani KPA-KPA dan pemerintah di daerah (TK. Kabupaten/Kota), sehingga akses bagi ODHA tidak merata di daerah2. Pemerintah daerah juga kurang responsif, selain keterbatasan pengetahuan dan kesadaran, juga koruptif, lho. Padahal, hingga tahun 2009, dana dalam negeri (APBN dan APBD) jumlahnya lebih besar dibanding dana donor luar.ironinya lagi, ARV diproduksi di Indonesia, tapi mengapa banyak ODHA di berbagai pelosok, bahkan area tertentu di kota besar, sulit mendapatkannya secara gratis.</p>
<p>Data itu kuambil dari salah seorang pembicara (bukan orang Indonesia tentunya), yang memaparkan data bahwa di Indonesia program untuk ibu hamil mendapatkan tes HIV dan AIDS, sebanyak 4 % saja (di seluruh Indonesia ya), dan program untuk setelah ibu hamil melakukan tes, itu belum ada programnya. jadi bisa dikatakan Indonesia masih 0%</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ari Jusuf</title>
		<link>http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html/comment-page-1#comment-48</link>
		<dc:creator>Ari Jusuf</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 11:45:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.diskusimdg.org/anak-anak-yang-terkena-dampak-aids.html#comment-48</guid>
		<description>Bang Nurdiyansah, apakah ada bocoran strategi yang menyebabkan Fiji Islands dan Thailand sehingga berhasil mencapai angka yang begitu tinggi (selain tentunya jumlah penduduk yang pastinya lebih kecil)?

Oiya, 4% yang mendapat PMTCT itu persentasi dibandingkan kasus terlapor atau angka estimasi "ibu hamil yang HIV+" ?

Thx.
aj</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Nurdiyansah, apakah ada bocoran strategi yang menyebabkan Fiji Islands dan Thailand sehingga berhasil mencapai angka yang begitu tinggi (selain tentunya jumlah penduduk yang pastinya lebih kecil)?</p>
<p>Oiya, 4% yang mendapat PMTCT itu persentasi dibandingkan kasus terlapor atau angka estimasi &#8220;ibu hamil yang HIV+&#8221; ?</p>
<p>Thx.<br />
aj</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
