Cerita Mbak Ning Tentang Pendidikan untuk Perempuan
oleh: Alderina Gracia
Surabaya lagi heboh dengan penggusuran nih. Di stren kali Jagir-Wonokromo, semua rumah (yang punya IMB) rata dengan tanah. Kok bisa punya IMB di tempat yang seharusnya tidak ada bangunan? Wah, itu dibahas lain kali saja. Lalu sewaktu Mas Kontributor datang dan memberikan hasil liputannya, Saya malah makan. Contoh anak magang yang buruk.
Sembari menunggu mie goreng dibuat, saya berbincang dengan Mbak Ning. Panggilannya Mbak tapi dia sudah Ibu, Ibu yang setiap siang memberi saya makan karena dia buka warung di depan tempat magang saya. Rupanya Mbak Ning mau digusur, warungnya diminta untuk dibongkar setelah 10 tahun berdiri di depan rumah kosong. “Rumahnya sudah laku dan mau dibagusin,” kata yang punya. Mbak Ning sumpek dan marah-marah, serta diprovokasi oleh tukang parkir yang mangkal di sana. “Sudah Ning, kamu minta ganti rugi. Enak saja asal gusur.”
Setiap hari kita tahu kalau banyak perempuan yang sudah diperlakukan tidak adil. Adil atau tidak semua tergantung sudut pandang masing-masing orang. Pemilik rumah tentu berpikiran bahwa dirinya layak menggusur sebuah warung yang tidak berijin lantas membuat kekotoran di depan rumahnya. Mbak Ning berpikir kalau dia seorang perempuan yang mencari nafkah untuk menyekolahkan anaknya yang masih SMA dan SD. Tukang parkir yang sakit hati karena dulu lapaknya juga digusur, hanya berpikiran bahwa orang kaya selalu saja membuat gara-gara. Pertanyaannya, siapa yang betul dan siapa yang salah? Kalau dilihat dari sisi administratif, tentu Mbak Ning salah karena tidak menempati tanah dengan ijin dan tidak punya hak ganti rugi karena tidak pernah bayar.
Semua itu akhirnya kembali juga pada tingkat pengetahuan setiap perempuan. Tahu akan haknya, tahu akan kewajibannya, tahu siapa yang dapat menolongnya, tahu siapa yang sedang memprovokasi dan tahu-tahu lainnya. Beruntungnya kita, perempuan punya insting, sebuah kemampuan yang tidak dipungkiri siapa saja (berusaha dipungkiri sih iya). Insting membantu perempuan menjadi lebih tanggap dan tahu tahu tahu. Hanya saja, seberapa banyak kita bisa bergantung pada insting? Lebih baik kalau insting ditambahi dengan pendidikan. Pendidikan membuat kita lebih tahu dengan penjelasan yang lengkap dan insting membuat kita membedakan mana yang berbahaya atau tidak berbahaya bagi kita. Sehingga menjadi perempuan terdidik, mendapat pendidikan yang baik dan kemudian menjadi perempuan yang bijak. Bijak karena tahu mana yang harus dihindari dan didekati.
*sigh* Pendidikan untuk perempuan, masih banyak yang berpikir lebih baik lelaki yang disekolahkan karena biaya sekolah mahal. Perempuan, belajar sama ibu aja. Kapankah persepsi itu berakhir? Terutama di daerah-daerah yang belum maju. Kita bisa kok berbuat, ketika kita tahu ada beasiswa, optimalkan beasiswa tersebut untuk anak-anak perempuan.
Bagaimana nasih Mbak Ning, sampai hari ini (7 hari setelah bincang-bincang itu) Mbak Ning masih membuka warungnya dengan gagah dan saya masih beli teh botol di warungnya. Katanya sih mau menempati tanah kosong di dekat sana, semoga tidak digusur lagi ya









menurut mbak alderina, sebenarnya indonesia lebih memerlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cukup hanya berbasis pada meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan/peserta didik pada tingkat dasar (pendidikan dasar 9 tahun) sesuai MDG 2. atau dengan mengedukasi orang yang lebih tua mengenai berhitung, kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, kedudukan dalam hukum, politik, ilmu praktis lainnya, dll…
secara masih banyak orang yang tidak mendapatkan informasi yang benar dan tidak teredukasi sehingga tidak dapat meningkatkan kualitas hidupnya?
Leave your response!