Home » Kemiskinan, Kesetaraan Gender, Pendidikan

Kebijakan Pendidikan, Sudahkah Menjawab Kesenjangan?

3 July 2009 4 Comments

Sample Picture From Flickr

Di sebuah desa di Indramayu, Jawa Barat sebagian besar penduduknya yang perempuan menjadi buruh migran /TKW. Latar belakang seperti akses pendidikan, dipadu dengan keterbatasan ekonomi, kekurangan akses informasi, membuat perempuan-perempuan di desa tersebut bekerja dengan risiko yang besar (baik trafiking maupun kekerasan), menjadi buruh migran.

Pun, ketika saya bertemu sekelompok remaja perempuan di desa tersebut, jika ditanya cita-cita, mereka menjawab jadi TKW (buruh migran). Cita-cita yang disampaikan itu, bukan karena tidak ada profesi lain, tetapi lebih pada, hanya pekerjaan tersebut yang bisa dijangkau oleh kelompok perempuan di seputaran desa tersebut. Mengapa? karena banyak remaja perempuan yang tidak menamatkan pendidikan dasarnya. Lebih jauh ketika saya penyebabnya, muncul sepenggal cerita mengenai kesenjangan akses pendidikan antara perempuan dan laki-laki. Di desa yang saya kunjungi itu, anak laki-laki memiliki akses lebih besar untuk pergi ke sekolah. Selain sekolah setingkat SMP dan SMA yang letaknya jauh dari tempat tinggal mereka, ada kesenjangan akses yang membuat anak laki-laki di desa tersebut bisa melanjutkan sekolah, sementara anak perempuannya ‘terpaksa’ bekerja untuk mendukung perekonomian keluarga.

Di sisi lain menguatkan, perbincangan dengan orangtua juga memberikan informasi mengapa muncul kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam mengakses pendidikan, antara lain: Anak laki-laki dalam keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, memiliki kesempatan yang lebih besar daripada anak perempuan, menurut para orang tua anak perempuan bisa dikawinkan kapan saja (ini terbukti di usia 14-15 tahun anak perempuan sudah menikah di desa ini), sementara anak laki-laki yang diharapkan menjadi kepala keluarga harus sekolah.

Sekolah yang jauh, tidak menjadi persoalan untuk anak laki-laki, karena mereka memiliki asset transportasi, baik itu sepeda maupun sepeda motor, sehingga jauhnya sekolah tidak jadi persoalan. Anak perempuan? Pilihannya: Ketidatersediaan angkutan umum dari rumah mereka ke sekolah, atau terbatasnya waktu operasional angkutan umum, atau naik ojek PP Rp 30.000,- (menurut orangtuanya mending buat makan daripada sekolah).

Maka jadilah, si anak perempuan yang tidak sekolah hanya menunggu waktu, jika ada orang yang mau melamarnya, atau sanak saudara yang akan mengajaknya ke Jakarta dengan iming-iming gaji besar (di Jakarta mereka pun tahu mereka akan menjadi apa? PSK pastinya) atau mau jadi TKW ke Malaysia, Arab, syukur-syukur ke Hongkong (karena Hongkong menurut banyak cerita teman-temannya, lebih enak ketimbang Malaysia)

Dari pengalaman saya jalan-jalan di Indramayu, apakah kebijakan pendidikan telah menjawab kesenjangan yang muncul seperti di Indramayu dan daerah lain yang menjadi kantong buruh migran?

4 Comments »

  • PendidikanKita.Com said:

    Sangat mengkhawatirkan ketika sekolah tidak di utamakan, apa jadinya dunia tanpa pendidikan..kader-kader bangsa akan terhambat karna adanya kesenggangan..disinilah peranan pemerintah harus mulai aktif dan cekatan dalam menyikapi permasalahan ini,..mudah-mudahan kedepannya bisa berubah lebih baik lagi, dan dorongan orang tua dalam hal pendidikann anak lebih di utamakan.

    Salam Sukses
    PendidikanKita.Com

  • Ari Jusuf said:

    “Laki atau perempuan sama saja…” kata banyak teman saya kalau ditanya maunya anak laki atau perempuan saat istrinya sedang hamil…

    Mungkin itu karena takut ngeduluin Tuhan saat kita dalam posisi tawar lemah (takut janin kenapa-napa)…

    Waktu udah dikasih anak sehat, mulai deh berhitung-hitung secara ekonomi untung-ruginya nyekolahin anak laki or permpuan..

    Malah ada yang tidak terlalu peduli gender, tapi semua anaknya di-tes IQ, yang IQ-nya paling tinggi dia sekolahin setinggi-tingginya karena probabilitas lulusnya lebih tinggi, disekolahin ke luar negeri, dimodalin untuk bikin usaha, trus anak-anak lainnya yang dianggap “kurang unggul” dipersilakan untuk kerja di perusahaan si “anak unggul”….

  • Bangtaru said:

    Selain akses pendidikan, mungkin juga system pendidikannya yang kurang mengakomodir link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Jadi perlu revolusi pendidikan gak?

    salam,
    taru

  • wedha said:

    padahal tahun ini anggaran pendidikan indonesia 20% dari total APBN. beberapa sumber mengatakan bahwa 90% alokasi pendidikan digunakan untuk gaji guru. baru sisanya untuk infrastruktur dan lain-lain.
    mengapa pendidikan dasar belum menjangkau semua anak?
    meskipun semua anak mendapat akses pendidikan dasar namun tanpa infrastrukstur seperti gedung, buku, seragam, laboratorium, jalan, dll anak-anak itu tetap tidak akan mendapat pendidikan yang berkualitas.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.