Pemberitaan HIV & AIDS yang Tidak Sensitif
Oleh Nurdiyansah
Bertambahnya pendokumentasian jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia, kini menjadi bahan menarik buat media (khususnya koran) dalam menyajikan kehebohan yang menggugah?!
Beberapa waktu lalu, saya melakukan riset kecil-kecilan terhadap 5 koran nasional tahun 2008 untuk menjawab pertanyaan: Seberapa banyakkah perhatian media terhada isu HIV & AIDS? Sekaligus, untuk mengetahui apakah media kita telah memiliki perspektif terhadap kaum beresiko tinggi (yaitu perempuan)? Hasilnya, ternyata agak ironis. Harus diakui bahwa kuantitas distribusi pemberitaan HIV & AIDS memang bertambah, namun bukan berarti ini menunjukkan kualitas sajiannya.
Selama tahun 2008 itu, topik yang paling disoroti adalah tentang pergerakan data kuantitatif jumlah ODHA. Jadi, biasanya pemberitaan seputar HIV & AIDS, judul dan isinya memaparkan jumlah ODHA yang kian meningkat. Padahal, kecenderungan media menulis “tingginya jumlah kasus”, perlu dicermati apakah yang bertambah adalah kasus yang terdokumentasi atau benar memang betul terjadi pertambahan kasus. Lalu, masih banyak kesalahan fatal lainnya, seperti menuliskan “penyakit AIDS”, “pengidap AIDS”, dan kebingungan penulis yang sekedar menyebutkan “HIV/AIDS” secara bersamaan tanpa tahu bedanya. Bukan hanya kurang pengetahuan tentang HIV & AIDS, tapi juga kurang pemahaman permasalahan sosial-kultural dan HAM kaitannya dengan HIV & AIDS, yang menyebabkan pemberitaan tidak sensitif. Justru terkesan seperti menakut-nakuti, kadang malah menguatkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.
Nah, bagaimana dengan penggambaran perempuan dalam pemberitaan HIV & AIDS? Dalam riset itu, saya mengelompokkan representasi perempuan menjadi perempuan pekerja seks, perempuan pekerja, dan perempuan sebagai ibu atau istri. Ternyata pemberitaan media tersebut masih sangat bias. Representasi perempuan yang dihubungkan dengan HIV & AIDS dalam beragam teks koran, masih dipandang sebagai bukan korban ataupun populasi yang berisiko, bahkan secara tidak langsung mengarah pada pandangan mereka sebagai pelaku dan pihak yang berkecenderungan dalam memperluas epidemi HIV, seperti pekerja seks kepada pelanggannya dan ibu yang menularkan HIV ke bayinya. Maka, tidak berlebihan untuk mengatakan koran mainstream yang ada, tidak menerapkan perspektif gender ataupun jurnalisme empati. Media masih belum mampu mejelaskan faktor biologis, sosial-kultural, ekonomi, dan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender, yang mengkondisikan dan memposisikan perempuan berkali-kali lipat lebih rentan dibandingkan kaum laki-laki.
Hal ini sekedar rekomendasi bagi pihak-pihak yang berencana dan berkomitmen mengurangi penyebaran HIV, untuk memperhatikan peran media. Dengan adanya berita-berita yang belum berperspektif terhadap korban, stigma dan diskriminasi pun akan sulit dihilangkan. Sedangkan, jika media telah mampu mengakomodir beragam hal itu, bukan tidak mungkin, media justru semakin berperan penting dan sangat membantu dalam menekan epidemi HIV mengingat peran dan fungsi strategis media dalam masyarakat sekarang.









Memang media memiliki peran sangat penting dalam pembentukan opini dan stigma, termasuk untuk masalah HIV/AIDS. Menurut saya, untuk meruntuhkan suatu opini yang kurang tepat (salah) tentang HIV/AIDS maka perlu dibangun opini yang tepat (benar) tentang hal tersebut. Ayo para penggiat HIV/AIDS, sering-seringlah membangun opini yang tepat dan benar.
Salam,
Taru
memang bener sekali, masalahnya media mainstream itu selalu terkait dengan masalah ekonomi-politik media, jadi kadang biar pun jurnalis sudah terberdayakan dengan isu, tapi kalo editor kaga, yah begitu. Kadang aku suka sebal dengan media yang selalu mengaitkan isi/konten dengan selalu mempertimbangkan itu akan laku atau tidak, biarkan saja lah di-publish kalau memang informasi itu penting bukan?!kan manusia juga bukan black box ya. toh pembaca juga bisa berpikir, kalo memang bagus ya dengan sendirinya akan laku kan ya.(mudah2an begitu sih ya, aku agak ragu juga).ya at least, ada diskusiMDGs ini hehehehe
Berarti mungkin pendekatannya adalah dengan membuat forum bagi pemberdayaan jurnalis dan pekerja media, di mana mereka bisa saling diskusi, ada training jg, dll, jadi jurnalis jg ga kerja robot ya
Mas Nurdiyansyah, mungkin gak sih ada gap of information tentang masalah HIV/AIDS ini di level media? Maksud saya begini, berita yang nyampe ke media tentang ODHA atau HIV/AIDS itu mungkin biasanya hanya sad story atau cerita2 tentang ketidak berdayaan, makanya jadi gak menarik lagi. Tapi pasti ada juga kan kisah2 ODHA atau HIV/AIDS yang happy ending yang penuh karya dan asa (diluar penyakit yang diidapnya) yang juga bisa menginspirasi seluruh manusia?
Wondering….
best regards
taru
ya tentu ada gap pastinya, mulai dari data sampai narasumber. karena media tidak pernah aktif mencari data dan siapa saja populasi beresiko. jadi gap-nya tampak jelas karena kan mereka dapat info atau data dari menghadiri acara/event HIV semata, tidak pernah cari tahu sendiri (investigasi).
Soal ketidakberdayaan, hmmmm, gmn ya? habis media itu masih melihat AIDS sbg isu yg seksi dan senasional, masih terstigmakan bahwa AIDS itu bla..blaaa.. jadi mereka masih bermain pada kehebohan data atau kehebohan emosi bagi pembaca tuk tergugah dan merasa ngeri. (sepertinya bagi media mainstream itu yg menarik deh)
iya nih aku juga mengharapkan ada tulisan2 di media yg menginspirasikan bagaimana perempuan tertular dengan posisinya sbg korban, dan dia bisa survive dan memberikan semangat hidup buat audiens media yg membacanya ya.
duh banyak harapan nih buat media ya tuk ke depannya, mudah2an media bisa lebih baik lagi (ngga melulu pertimbangannya ekonomi terus)
cheers
HIV/AIDS is still a problem today despite huge medical advances, i am wondering if there would ever be a cure for this disease .
yang lebih utama adalah memberdayakan ODHA untuk tetap bisa berkarya, jangan lupakan mereka. Tetap beri dukungan moral agar tetap bisa eksis di tengah perlawanan melawan HIV/AIDS.
It is quite scary that there is still no cure for HIV/AIDS and the only way we can fight it is by prevention. How long would it take our scientists to develop a cure or vaccine for this disease?
!
Leave your response!
Blogroll
Most Commented