Home » Kematian Anak, Kesehatan Ibu

Pilih Mana Bidan atau Paraji?

10 July 2009 4 Comments

Seorang Ibu hamil yang saya temui di pinggiran pantai di Kendari, Sulawesi Tenggara kebingungan karena dia terbiasa melahirkan di tangan paraji (dukun bayi). Kali ini, anaknya yang keempat, menurut informasi tenaga kesehatan di puskesmas keliling, si ibu lebih baik melahirkan dibantu oleh bidan lebih aman dan terjamin, kata petugas kesehatan.

Si ibu hamil dilemma , kata orang melahirkan dibantu dengan bidan memang aman, terjamin dan cekatan, tapi harganya mahal, mana bidan desanya juga bukan orang yang dia kenal. Sementara dengan paraji, juga tak kalah handal, kelebihan paraji menurut si Ibu hamil, murah harganya dan sudah kenal orangnya, sehingga paska kelahiran sampai pusar si bayi lepas, paraji mau membantu memandikan bayinya.

Dulu, sekitar tahun 2005, saya pernah mendengar Departemen Kesehatan menjawab kebutuhan ibu-ibu hamil dengan membuka kesempatan kemitraan dan pelatihan antara bidan dan paraji. Dari cerita beberapa ibu di Kendari, memang pernah ada aturan seperti itu, tapi sepertinya muncul masalah baru karena bidan dan paraji jadi ‘rebutan’ pasien. Ada persoalan yang muncul, kadang bidan bukan dari masyarakat setempat, sementara paraji adalah penduduk lokal. Selain itu, bidan desa terkadang datang seminggu sekali, sementara paraji ada di tempat alias satu desa dengan si ibu hamil.

Terkait dengan komitmen untuk mengurangi angka kematian ibu, di daerah yang secara geografis termasuk kategori terpencil? bagaimana seharusnya layanan kesehatan untuk ibu hamil? Mengingat angka kematian ibu saat ini 307 per 100.000 ribu kelahiran, dan tiap tahun ada 20.000 perempuan yang meninggal akibat persalinan.

4 Comments »

  • sofie (author) said:

    Informasi terakhir yang ditayangkan metro tv di pertengahan Juli 2009, dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan angka kematian ibu menurun medio 2009 sekitar 228 per 100.000 kelahiran. Sedangkan untuk bidan dan paraji, kerjasamanya, jika ibu hamil ditangani oleh paraji, maka harus direfer ke bidan (petugas kesehatan), si paraji mendapat fee dari refer-an tersebut.

  • Taru said:

    ada gak sih program sertifikasi paraji yang dilakukan oleh pemerintah? Kali-kali aja ada, kan seru tuh, heheh

  • ilo said:

    Yang ada sih setahu saya berbagai program pelatihan Bang Taru.

    Tapi ada juga Pemerintah daerah seperti [Colek kalo salah] Kodya Sukabumi yang memberikan beasiswa bantuan pendidikan keterampilan kebidanan kepada para anak paraji.

    Mbak Sofi, kalo ngga salah hasil tersebut mengutip dari hasil Riskesdas yang dilakukan pada 2007.

    Salam

  • Bangtaru said:

    Ehh mas Ilo, “pelatihan kepada anak paraji”, kok anak paraji sih? kenapa bukan paraji nya?

    salam,
    taru

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.