Tantangan SBY - Boediono: MDG’s Tak Tercapai, Kematian Ibu Melahirkan Meningkat
4 September 2009 - 9:57 WIB
Kurniawan Tri Yunanto
VHRmedia, Jakarta – Pencapaian Millenium Development Goal’s Indonesia pada pemerintahan SBY - Jusuf Kalla terbukti menurun. Tantangan terbesar Indonesia pada pemerintahan SBY - Boediono adalah harus mampu menekan angka kematian ibu melahirkan yang terus meningkat mencapai 420 per 100.000 kelahiran.
Hal itu dikatakan Wahyu Susilo, Kepala Divisi Advokasi Forum LSM Internasional untuk Pembangunan Indonesia (INFID), di Jakarta, Kamis (3/9). Menurut dia, angka kematian ibu melahirkan tahun 2000 adalah 207 per 100.000 kelahiran. Dalam lima tahun terakhir meningkat menjadi 420 per 100 ribu kelahiran hidup. “Kondisi itu belum termasuk pada hitungan yang sekarang ini. Seharusnya mendekati tahun 2015 angka kematian itu makin ditekan, bukan makin bertambah. Saya kira itu tantangan yang paling berat.”
Wahyu mengingatkan, pemerintah Indonesia sering salah menjalankan strategi pelaksanaan program Millenium Development Goal’s. Misalnya, kemiskinan ditanggulangi dengan utang. Mengatasi kelaparan dengan impor pangan, padahal kita mempunyai sumber daya yang banyak. ”Kita terlalu patuh terhadap semangat antiproteksionisme, yang menghancurkan produk pertanian lokal, termasuk gula dan garam.”
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan jika kebijakan ekonomi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - Boediono masih mengedepankan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada pasar. Untuk mencapai peningkatan MDG’s, Indonesia harus mengubah kebijakan ekonominya dengan berbasis pada pemenuhan hak.
”Pembangunan ekonomi kita harusnya mengedepankan pemenuhan hak rakyat, bukan mengejar pertumbuhan ekonomi. Selama ini kita sangat matematis. Kalau ada pertumbuhan ekonomi, selalu menyerap tenaga kerja. Sedangkan kalau menggunakan pendekatan hak, harus dipastikan apakah akses terhadap hak itu bisa tercapai,” kata Wahyu.
Indikator lemahnya pencapaian MDG’s juga terlihat di sektor lingkungan. Indonesia merupakan negara Asia yang paling rajin membabat hutan. Ketika negara lain forestasinya berhasil meski hanya 2% hingga 3%, di Indonesia justru terjadi deforestasi. ”Indonesia paling rajin menghilangkan hutan. Makin tahun makin luas.”
Indonesia yang mengklaim sebagai negara dengan pemasukan menengah, dikhawatirkan kembali terperosok sebagai negara low income dan menjadi pasien lambaga keuangan internasional. Karena itu, diperlukan kebijakan khusus untuk percepatan pencapain MDG’s. ”Harus ada kebijakan yang radikal seperti pemotongan utang atau penghematan pembiayaan yang tidak perlu untuk dialihkan ke sektor yang penting,” ujar Wahyu.
Millenium Development Goal’s adalah program Perserikatan Bangsa-Bangsa yang disepakati pada tahun 2000. Dengan program ini diharapkan berbagai negara melakukan perbaikan di delapan bidang pembangunan hingga tahun 2015. Di antaranya, menurunkan angka kematian ibu melahirkan sampai 3 per 4, angka kematian bayi sampai 2 per 3, angka kemiskinan sampai separo dari jumlah saat ini.
Bidang lainnya, pendidikan dasar universal, kesetaraan pendidikan dan pemberdayaan perempuan, pemberantasan HIV/AIDS dan penyakit-penyakit infeksi penyebab kematian, menjamin keberlanjutan lingkungan, serta kemitraan global. ”Kalau melihat kondisinya, sebenarnya kita agak pesimistis. Harus ada dorongan yang kuat dari masyarakat sipil. Harus mendesak pemerintah agar mengejar target ini,” kata Wahyu Susilo. (E4)









Leave your response!